TEMPO Interaktif,
Memang terkadang, menurut para dokter ini, sejumlah gejala tidak menunjukkan kondisi yang serius. Misalnya, kebanyakan sakit kepala merupakan buah dari kondisi stres, kurang tidur, dehidrasi, dan kelebihan kafein. Namun, serangan mendadak yang terasa menghujam kepala bisa menunjukkan kejadian pendarahan di otak.
Trio dokter ini pun memilah-milahnya menjadi enam gejala penting yang patut dicermati bagi awam. Dimulai dengan lengan atau tangan tak bisa digerakkan, rasa geli, kebas, merasa bingung tanpa sebab, pusing, penglihatan berbayang, bicara tak jelas, sulit menemukan kata bila bicara, dan merasa lemah, khususnya di salah satu sisi tubuh atau wajah.
Sederet kondisi itu erat dengan serangan stroke. Inilah kondisi ketika kiriman oksigen ke otak tertahan atau tak sampai, sehingga mengakibatkan jaringan otak tak berfungsi lagi. Namun, gejala yang muncul tergantung pada bagian otak yang terganggu. Jika pembuluh darah besar yang tersumbat, akan berakibat pada area yang lebih luas. Kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan pada salah satu sisi tubuhnya dan kehilangan fungsi tubuh lain, seperti berbicara dan memahami. Namun, bila pembuluh darah kecil yang tertahan, maka kelumpuhan hanya dialami bagian tangan atau lengan. "Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk pulih secara menyeluruh," kata Birge seperti dikutip dari Webmd.
Kedua, cermati rasa nyeri di dada atau tidak nyaman. Nyeri bisa muncul di tangan, leher, rahang, serta disertai keringat dingin, sangat lemah, mual, muntah, napas terengah-tengah, dan pusing. Serangkaian gangguan ini terkait dengan serangan jantung. Shulman dan Birge menyarankan, menelan aspirin untuk pencegahan kerusakan pada otot jantung selama terjadi serangan.
Namun, masalahnya tak setiap orang yang terkena serangan jantung merasakan nyeri dada maupun tekanan. Sejumlah orang, terutama perempuan tua dan penderita diabetes, memiliki gejala yang minim ketika terkena penyakit ini. Pada kelompok ini, yang harus diwaspadai adalah pusing yang tiba-tiba menyerang, berkeringat deras, bernapas pendek, mual, dan muntah. Tapi, menurut Shulam, setiap orang yang merasa sakit pada rahang, tak langsung menyatakan dirinya mengalami serangan jantung. Hanya bila dibarengi gejala lain, barulah kita dapat menyimpulkan ada serangan serius.
Hal ketiga yang patut dicermati, menurut para dokter ini, adalah rasa nyeri di kaki bagian bawah, nyeri dada, bernapas pendek, atau batuk berdarah. Inilah gejala dari pembekuan darah pada kaki, khususnya setelah Anda duduk terlalu lama, misalnya setelah perjalanan panjang dengan pesawat terbang maupun mobil. Biasanya, kata Birge, orang akan merasakan pembengkakan, dan nyeri saat disentuh pada bagian kaki tersebut. Bahayanya bila pembuluh darah pecah dan menjalar ke pembuluh darah yang menuju paru-paru.
Waspadai adanya darah pada urine, meski tanpa rasa sakit. Shulman menyebutkan, batu ginjal, empedu, maupun infeksi prostat bisa menimbulkan kondisi ini. Umumnya menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman. Kanker pada ginjal, ureter, empedu, atau prostat pun dipicu pendarahan dan mengucur lewat saluran kencing. "Jangan abaikan gejala ini, karena darah pada urine kemungkinan sinyal sebuah diagnosis awal," papar Shulman dan Birge.
Trio dokter ini juga meminta untuk tidak mengabaikan serangan asma yang ditandai dengan kesulitan bernapas. Karena jika tidak ditangani, penyakit ini akan menyebabkan kelelahan pada otot dada yang akut dan kematian. Depresi dan keinginan untuk bunuh diri juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Gejalanya, biasanya berupa nyeri dada atau napas yang tersengal-sengal.
"Depresi bisa menjadi problem sangat serius karena bisa memicu orang untuk bunuh diri," kata Shulman. Padahal banyak orang tidak mencari bantuan karena takut dianggap gila, tidak kuat, dan tidak jantan. "Mereka tidak paham bahwa telah terjadi ketidakseimbangan kimiawi dalam otaknya. Depresi adalah penyakit, seperti halnya derita lainnya," ia menegaskan.





