Iklan

Enam Pertanda Derita Serius

Written by arfa on 14 Feb 2009 at 23.06

TEMPO Interaktif, Jakarta : Bila Anda sering sakit kepala, kebas, atau penglihatan kabur, sebaiknya gejala ini tidak diabaikan. Trio dokter dari Amerika Serikat mengingatkan publik untuk lebih mencermati tanda-tanda dari tubuh tentang kehadiran penyakit tertentu dalam bukunya, Your Body's Red Light Warming Signals. Ketiganya adalah Neil Shulman, MD, Jack Birge, MD, dan Joon Ahn, MD.

Memang terkadang, menurut para dokter ini, sejumlah gejala tidak menunjukkan kondisi yang serius. Misalnya, kebanyakan sakit kepala merupakan buah dari kondisi stres, kurang tidur, dehidrasi, dan kelebihan kafein. Namun, serangan mendadak yang terasa menghujam kepala bisa menunjukkan kejadian pendarahan di otak.

Trio dokter ini pun memilah-milahnya menjadi enam gejala penting yang patut dicermati bagi awam. Dimulai dengan lengan atau tangan tak bisa digerakkan, rasa geli, kebas, merasa bingung tanpa sebab, pusing, penglihatan berbayang, bicara tak jelas, sulit menemukan kata bila bicara, dan merasa lemah, khususnya di salah satu sisi tubuh atau wajah.

Sederet kondisi itu erat dengan serangan stroke. Inilah kondisi ketika kiriman oksigen ke otak tertahan atau tak sampai, sehingga mengakibatkan jaringan otak tak berfungsi lagi. Namun, gejala yang muncul tergantung pada bagian otak yang terganggu. Jika pembuluh darah besar yang tersumbat, akan berakibat pada area yang lebih luas. Kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan pada salah satu sisi tubuhnya dan kehilangan fungsi tubuh lain, seperti berbicara dan memahami. Namun, bila pembuluh darah kecil yang tertahan, maka kelumpuhan hanya dialami bagian tangan atau lengan. "Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk pulih secara menyeluruh," kata Birge seperti dikutip dari Webmd.

Kedua, cermati rasa nyeri di dada atau tidak nyaman. Nyeri bisa muncul di tangan, leher, rahang, serta disertai keringat dingin, sangat lemah, mual, muntah, napas terengah-tengah, dan pusing. Serangkaian gangguan ini terkait dengan serangan jantung. Shulman dan Birge menyarankan, menelan aspirin untuk pencegahan kerusakan pada otot jantung selama terjadi serangan.

Namun, masalahnya tak setiap orang yang terkena serangan jantung merasakan nyeri dada maupun tekanan. Sejumlah orang, terutama perempuan tua dan penderita diabetes, memiliki gejala yang minim ketika terkena penyakit ini. Pada kelompok ini, yang harus diwaspadai adalah pusing yang tiba-tiba menyerang, berkeringat deras, bernapas pendek, mual, dan muntah. Tapi, menurut Shulam, setiap orang yang merasa sakit pada rahang, tak langsung menyatakan dirinya mengalami serangan jantung. Hanya bila dibarengi gejala lain, barulah kita dapat menyimpulkan ada serangan serius.

Hal ketiga yang patut dicermati, menurut para dokter ini, adalah rasa nyeri di kaki bagian bawah, nyeri dada, bernapas pendek, atau batuk berdarah. Inilah gejala dari pembekuan darah pada kaki, khususnya setelah Anda duduk terlalu lama, misalnya setelah perjalanan panjang dengan pesawat terbang maupun mobil. Biasanya, kata Birge, orang akan merasakan pembengkakan, dan nyeri saat disentuh pada bagian kaki tersebut. Bahayanya bila pembuluh darah pecah dan menjalar ke pembuluh darah yang menuju paru-paru.

Waspadai adanya darah pada urine, meski tanpa rasa sakit. Shulman menyebutkan, batu ginjal, empedu, maupun infeksi prostat bisa menimbulkan kondisi ini. Umumnya menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman. Kanker pada ginjal, ureter, empedu, atau prostat pun dipicu pendarahan dan mengucur lewat saluran kencing. "Jangan abaikan gejala ini, karena darah pada urine kemungkinan sinyal sebuah diagnosis awal," papar Shulman dan Birge.

Trio dokter ini juga meminta untuk tidak mengabaikan serangan asma yang ditandai dengan kesulitan bernapas. Karena jika tidak ditangani, penyakit ini akan menyebabkan kelelahan pada otot dada yang akut dan kematian. Depresi dan keinginan untuk bunuh diri juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Gejalanya, biasanya berupa nyeri dada atau napas yang tersengal-sengal.

"Depresi bisa menjadi problem sangat serius karena bisa memicu orang untuk bunuh diri," kata Shulman. Padahal banyak orang tidak mencari bantuan karena takut dianggap gila, tidak kuat, dan tidak jantan. "Mereka tidak paham bahwa telah terjadi ketidakseimbangan kimiawi dalam otaknya. Depresi adalah penyakit, seperti halnya derita lainnya," ia menegaskan.

Polusi Dunia Naik 3 Persen

Written by arfa on at 22.15

Emisi karbon dioksida sebagai indikator pencemar paling utama mengalami kenaikan 3 persen antara tahun 2006 dan 2007. Laju kenaikan tersebut di atas perkiraan sejumlah pakar lingkungan bahkan disebut sebagai kondisi yang menyeramkan.

Keadaan tersebut mengejutkan karena di saat ekonomi global secara umum mengalami kelesuan ternyata masih menyumbang kenaikan laju pencemaran yang tinggi. Sebagain besar sumber polusi masih tetap berasal dari penggunaan batubara dan bahan bakar minyak.

China tercatat sebagai negara yang menyumbang polusi terbesar di dunia menggantikan posisi AS sejak tahun 2006. Berdasarkan estimasi BP PLC, salah satu perusahaan minyak raksasa dunia, emisi karbon dioksida yang dihasilkan aktivitas industri di China mencapai 2 miliar ton selama tahun 2007 atau naik 7,5 persen dari tahun sebelumnya. Sementara emisi karbon dioksida dari AS sebesar 1,75 miliar ton atau naik 2 persen dari tahun sebelumnya.

Laju pencemaran diperkirakan akan semakain tinggi terutama dari negara-negara berkembang yang tengah mengalami pertumbuhan industri sangat tinggi seperti China. India kini juga menggeser posisi ketiga yang dulu ditempati Russia.

Sesuai protokol Kyoto, China dan India termasuk dalam daftar negara berkembang yang tidak harus menurunkan emisi karbon dioksidanya seperti negara-negara maju. Namun, saat ini, negara-negara berkembang justru menyumbang 53 persen polusi karbon dioksida.

Negara-negara industri mulai menurunkan emisi karbon dioksidanya. Denamark berhasil menurunkan emisi sebesar 8 persen, Inggris dan Jerman sebesar 3 persen. Sementara Perancis dan Australia menurunkan sebesar 2 persen.

“Alam tak dapat menyerap karbon dioksida dari manusia,” ujar Corinne Le Querre, profesor lingkungan dari Universitas East Anglia dan Survey Antartika Inggris (BAS). Apalagi, lanjutnya, dari tahun 1955-2000, hutan dan lautan sanggup menyerap sekitar 57 persen karbon dioksida, namun saat ini hanya sanggup menyerap 54 persen saja.

Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) memprediksi suhu Bumi akan meningkat antara 4-11 persen pada tahun 2100 akibat pencemaran tersebut. hal tersebut akan menyebabkan wabah penyakit semakain banyak, badai makain sering dan besar, serta kenaikan muka air laut. Jika laju emisi karbon dioksida lebih tinggi dari perkiraan, siap-siaplah bencana datang lebih awal.

Sumber: KCM

Pencemaran Lingkungan

Written by arfa on at 07.39

Motivasi Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

Sumber Pencemar

Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi.

Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

Proses Pencemaran

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.

Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

Langkah Penyelesaian

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle).

Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.

Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

Lebih dari 2 Triliun Ton Es Kutub Mencair

Written by arfa on 1 Feb 2009 at 16.50

Es di Greenland yang kian menyusut karena pemanasan global

LEBIH dari dua triliun ton es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair sejak tahun 2003. Hasil pengukuran menggunakan data pengamatan satelit GRACE milik NASA itu menunjukkan bukti terbaru dampak dari pemanasan global.

"Antara Greenland, Antartika, dan Alaska, pencairan lapisan es telah meningkatkan air laut setinggi seperlima inci dalam lima tahun terakhir," kata Scott Luthcke, geofisikawan NASA.

Dari pengukuran tersebut, lebih dari setengahnya adalah es yang sebelumnya ada di Greenland. Selama lima tahun, es yang mencair dari Greenland tersebut mengalir ke Teluk Chesapeake dan mengalir ke laut lepas. Bahkan menurut Luthcke, pencairan es di Greenland akan berlangsung semakin cepat.

Mencairnya es di daratan sebenarnya tak berpengaruh langsung terhadap kenaikan muka air laut di seluruh dunia seperti mencairnya lautan beku. Pada tahun 1990-an, pencairan es di Greenland tidak menyebabkan peningkatan air laut yang berarti.

"Namun, saat ini Greenland turut meningkatkan setengah milimeter tingkat air laut per tahun," kata ilmuwan es NASA Jay Zwally. “Pencairan terus memburuk. Ini menunjukkan tanda yang kuat dari pencairan dan amplifikasi. Tidak ada perbaikan yang terjadi,” lanjut Zwally.

Para ilmuwan NASA mempresentasikan temuan baru mereka pada konferensi American Geophysical Union di San Fransisco minggu lalu. Dengan menganalisis perubahan iklim, secara umum para ilmuwan akan melihat yang terjadi beberapa tahun untuk menentukan tren secara keseluruhan.

Posted: http://www.kompas.com